Sabtuu.... sabtuuuu~ nggak kerasa, tiba-tiba udah tanggal
28 Juni aja. Hari itu jadwalnya karnaval seharian. Banzaiiiii...!!!
Karena tema karnavalnya adalah alam, Tika berencana untuk
membuat mahkota dari dedaunan. Saya sengaja bangun pagi-pagi nemenin Tika nyari
bahan buat karnaval. Kami tidak hanya berdua hari itu, karena kami tidak hafal
landscape Bato Bintang, Imas, putri bu Sidah juga ikut bersama kami.
Kami bertiga berangkat jam setengah enam pagi, menyusuri
sungai dan kebun-kebun untuk mencari tanaman menjalar yang bisa di-“ronce”
dijadikan mahkota. Setelah setengah jam, kami dapat mengumpulkan se-kresek
besar berbagai macam daun dan bunga.
Sesampainya di pos 3, dengan bantuan teman-teman yang
lain, acara ronce-meronce dedaunanpun dimulai. Tika sebagai masternya, saya cuma
bisa menghias dan membuat mahkota dari daun-daunan saja.~_~
Jam delapan pagi, kami berkumpul di MI dengan anak-anak
yang ikut karnaval. Wah, ternyata banyak sekali peserta yang ikut. Apresiasi
masyarakat Bato Bintang memang patut sekali saya acungi jempol. :)
Ada insiden kecil, konyol binti memalukan, yang saya
alami sebelum kami berangkat menuju lapangan desa Nyato (tempat berkumpul
peserta karnaval). Dengan pedenya saya berjalan ke tengah-tengah lapangan MI
(saya kira tanahnya sudah kering). Eh nyampe tengah-tengah, sandal saya
“kesedot” lempung, nggak bisa jalan, sial=..= goddamned! (note to myself:
jangan bawa sandal jepit tipis oleh-oleh ala tempat wisata jika ingin bertahan
di lahan yang berlempung). Teman-teman yang lain sudah hampir nyampe pintu
gerbang, saya masih stuck di tengah lapangan. Saya harus teriak-teriak minta
tolong:
“Woooy...tolongin woooy. Teman-teman aku kejebak lumpur!!!” lol, dan
akhirnya saya ditolongin Sony, hahaha makasih yaa Son m(_ _)m.
Back to the story, perjalanan kami ke pos inti lumayan
jauh. Kami melewati desa Nyato, disana terdapat danau lhooh. FYI, letak pos 4
juga di dekat danau situ, asyik banget kan?. Perjalanan dari dusun Bato Bintang
ke Nyato memakan waktu sekitar 45 menit. Sampai di lapangan Nyato
ternyata...... masih sepi!. Yak, untuk kesekian kalinya pos 3 datangnya
kepagian, padahal kami kira sudah paling telat. Walaupun letaknya paling jauh,
selain rajin, peserta karnaval pos 3 juga yang paling banyak diantara pos pos
lain. Keren kan? pos 3 memang selalu fenomenal XD. Hohoho
Setelah sekitar satu jam, ketika semua peserta karnaval sudah
berkumpul, kami ‘digiring’ menuju pos inti. Sesampainya disana, barulah acara
hiburan dimulai. Tentu saja, pos 3 paling ramai. Peserta karnaval pos 3
menyajikan qoshidahan (saya lupa mereka menyebutnya apa, pokok yang nyanyi
puji-pujian bahasa Arab sambil main rebana dsb itu lhooo) dan dance (yang ini
hiburan tambahan, karena peserta karnaval perempuan merasa ‘panas’ setelah
melihat penampilan dance dari pos 2(?) –seingat saya pos 2-).
Saya benar-benar terkesan dengan penampilan anak-anak Bato
Bintang ketika mereka qoshidahan. Keren banget, apalagi sang vokalis(?),
Muhajir. Walaupun masih kecil, ngajinya Muhajir jago banget, pintar, cool,
ganteng pula #eh :p. FYI-again- Muhajir ini sering banget jadi rebutan buat
foto-foto para kakak-kakak-mahasiswi rempong (termasuk saya) karena saking
karismatiknya hahaha XD.
In addition, saya terhibur dengan dance-nya para anak-anak
perempuan Bato Bintang. Sepertinya yang ikut dance ini para siswi kelas VI atau
VII deh, sudah pada gede-gede soalnya. Mereka menari diiringi dengan lagunya
Akon – Smack That (eh itu lagu tahun berapa ya?). Gerakan mereka terlihat lebih
gemulai dibandingkan penampilan dance yang sebelumnya (sorry to say). Awalnya
saya terkagum-kagum, waaah keren dance mereka nggak kaku, saya sampai berdiri
agar dapat melihat lebih jelas. Tetapi ketika selesai 1 verse yang “Smack that
all on the floor~..................~smack that oo~ooow~” mereka kembali ke
formasi dan gerakan awal. Dan saya langsung kembali duduk di kursi.
Tika: “Kenapa mbak?”
Me: “Nggak papa, itu nanti sampai lagunya selesai,
gerakannya seperti itu terus.”
Dan ternyata benar -_- ........
Honestly, saya suka kok dengan cara mereka menari karena
benar-benar nggak ada yang kaku, dan itu bagus karena penari yang baik itu yang
bisa menari model apapun tanpa terlihat kaku. Namun, saya lebih suka jika
mereka menari tarian daerah daripada modern dance. After all, that was
entertaining. :)
Keceriaan itu berlanjut ketika Fathur dan Sony (pos 3
dong tentunya) bikin heboh dengan atraksi super konyol mereka. Gimana nggak
konyol, lhawong kata Sony, si “Teddy Bear” Fathur punya ilmu meringankan tubuh,
bisa berjalan diatas tali.
Gaya bicara Sony sangat meyakinkan bak mbah Tarno yang
mau nunjukin trik sulapnya, pake adegan ngambil tali jemuran, penutup mata dan
kursi (menjiwai banget deh actingnya, sontak bikin semua orang di pos inti penasaran,
termasuk saya.
Ternyata pemirsaaaah....berjalan diatas tali yang mereka
maksud adalah....... ya benar-benar berjalan diatas tali, secara harfiah. Jadi
talinya diletakkan di atas tanah, trus Fathur hanya tinggal berjalan diatasnya,
berjalan normal... nggak kayak pemain sirkus yang berjalan di atas tali yang
talinya digantung diatas-_-. Yaaah, gludak...!!! seisi pos inti langsung ngakak
gara-gara pertunjukan mereka, benar-benar konyol maksimal, lol.
+++
Sorenya, saya janjian sama tiga anak-anak cerdas Bato
Bintang, Nasrun, Taufik, dan Santi, untuk persiapan lomba cerdas cermat yang
diselenggarakan pada hari minggu. Saya salut sama semangat belajar mereka,
padahal baru kemarin (Jumat) saya beri materi mentahan yang mereka belum hafal.
Eh pada hari itu (Sabtu), mereka sudah hafal 90% materi yang saya berikan,
hebaaaat. Anak-anak itu ya, daya ingatnya memang luar biasa~
Oh iya, insiden sandal kembali terjadi sore itu. Tetapi
bukan lagi sandal saya yang dilahap lumpur, melainkan sandal Santi yang dibawa
oleh penghuni pos 3 entah siapa.
Kronologisnya, setelah bimbingan cerdas cermat, Santi dan
yang lain bersiap untuk pulang karena senja sudah semakin pekat. Tiba-tiba....
Santi: “Mbak, sandalku kok nggak ada ya.”
Me: “Eh masa, dek? Sandalnya warnanya apa?”
Santi: “Biru(?) mbak.” (sebenarnya sandalnya bewarna
hijau saudara-saudara. Bukannya Santi nggak bisa bedain warna hijau dan biru,
ternyata di madura itu, warna hijau sebutannya ‘bero’ –atau semacam itulah, lagi-lagi
saya nggak tahu nulisnya gimana- yang kalau dilafalkan memang mirip dengan
lafal kata ‘biru’).
Me: *bantu nyari sandal* “Duh nggak ada dek,
jangan-jangan dibawa Tika dkk yang sedang bimbingan menyanyi lagu kebangsaan di
MI tadi.”
Akhirnya saya dan Santi pergi ke MI untuk mencari mereka,
ternyata mereka nggak ada, sementara Maghrib segera menjelang. Lalu kami
kembali lagi menuju pos 3, menunggu. Sembari menunggu, bu Sidah mengajak Santi
makan. Saya nggak nafsu makan, saat itu percikan api kemarahan mulai menjalar
di pangkal rambut.
Kenapa? selain sedang period, jujur saat itu saya sedang
agak kesal dengan teman-teman yang terlalu santai hingga terkesan cuek dengan
kejadian ini atau kejadian lain di hari-hari sebelumnya (mungkin juga karena
pada dasarnya saya adalah orang yang terlalu serius dan perfeksionis, jadi agak
crash, nggak cocok ketika dicampur dengan orang-orang yang berkepribadian
‘woles’). Beberapa hal yang sempat membuat saya sempat kesal adalah:
1.
Kebiasaan memakai
sandal orang seenak jidat. Ini sepele sekali bagi yang lain, nggak penting
malah, tapi bagi saya tidak. Bukannya pelit minjemin sandal atau apa, tapi
sebelum ke Madura, ada pengumuman persiapan barang-barang apa saja yang harus
dibawa yang (seingat saya) jelas-jelas tertulis untuk membawa sepatu dan
sandal. Misalnya-pun di pengumuman nggak tertulis hal itu, tapi untuk para
peserta BAM yang notabene-nya adalah para mahasiswa-yang-udah-pada-bisa-mikir,
masa nggak kepikiran kalau tinggal 8 hari di daerah orang itu berarti butuh
mandi, ke sawah, jalan kemana-mana, dan sebagainya yang nggak bisa dilakukan
kalau kita memakai sepatu. Masa mandi mau pakai sepatu?. Kelihatannya hal
seperti ini memang sangat sepele, tapi bagi saya, hal-hal seperti ini (bawa sandal
misalnya) adalah sebuah tanggung jawab masing-masing yang tidak boleh
disepelekan.
2.
Kebiasaan nggak
minta izin dulu ketika meminjam. Contohnya: sandal lagi aja ya. Sejak hari
pertama, mereka keluar masuk pake sandal yang berbeda-beda. Misalnya pun ingin
memakai sandal orang lain, kenapa mereka nggak minta izin terlebih dahulu.
Minta izin memang sepele banget, apalagi dengan kebiasaan orang Jawa yang
“halah, teman sendiri aja kok”, tapi jika mengentengkan hal ini, apa yang
terjadi? Ya insiden sandal Santi tadi.
Kalau rumah Santi dekat, mungkin hal itu bukan masalah
besar. Namun permasalahannya, rumah Santi itu jauh guys, di desa lain, tepatnya
desa Nyi’nyi. Selain itu, karena rencana bimbingan dan/atau kerja kelompok
cerdas cermat hanya sampai sore hari, jadi Santi nggak minta izin ke
orangtuanya untuk menginap, dia hanya izin untuk belajar kelompok pulang sore.
Saya (yang memang terlalu serius menghadapi masalah) merasa sangat bersalah
pada Santi, membuat dia menunggu sampai habis Maghrib.
Sebenarnya ada jalan pintas menuju rumah Santi di desa
Nyi’nyi, yaitu melewati hutan. Tetapi gara-gara insiden sandal, Santi tidak
berani lewat situ jika malam. Selain gelap, Santi juga tidak membawa senter,
dia pun juga takut jika pulang malam melewati jalan itu sendirian. Tapi, jika
melewati jalan besar (yang berarti juga berjalan memutar), dia juga tidak
berani karena lewat sana berarti melewati kuburan (maklum ya anak SD). Selain
itu, lewat jalan besar lebih jauh, kecuali kalau ditempuh dengan sepeda motor.
Tak berapa lama, Sony dan Wisnu datang. Ternyata sandal
Santi dipakai Sony. Haaarrghhh...!!! saat itu darah di ubun-ubun saya sudah
meletup-letup.
Akhirnya yang inisiatif untuk mengantar Santi malah Nasrun dan Taufik, dua anak
yang ikut cerdas cermat besok selain Santi. Dua anak itu sungguh mulia, mereka
mau menawarkan bantuan untuk mengantarkan Santi pulang. Saya sangat terharu nak
:”). Hanya saja mereka nggak bawa senter, dan saya nggak tega kalau mereka
mengantarkan Santi tanpa senter. (Secara ya, lewat hutan, takut ada ular atau
yang lain, kalau nggak sengaja keinjek kan bahaya).
Setelah mencari-cari senter dan menyerahkan ke Nasrun dan Taufik, ternyata dua anak mulia tadi
cukup iseng juga-_-. Mereka berkata pada Santi kalau mereka akan lewat kuburan
dan meninggalkan Santi sendirian disana. (Yeah, boys, they always do that to
the girls)=_=. “Ancaman” mereka cukup membuat Santi ketakukan, haaah akhirnya
saya juga yang harus menemani mereka mengantarkan Santi.
Saya memutuskan untuk meminjam senter lagi karena senter
Dani tadi tidak cukup terang untuk empat orang. “Ada senter lagi nggak?” kata
saya ke seluruh penghuni pos 3, saya cukup tergesa-gesa karena tidak ingin
semakin malam mengantarkan Santi (pada dasarnya saya ini penakut T.T).
Krikk...krik..krik... ternyata mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing,
nggak ada yang merespon. Somebody please masukkan kepala saya ke air es, biar
otak yang telah mendidih ini bisa mendingin. Untungnya Ririn sedang memegang
HP, karena HP Ririn bisa dipakai untuk senter, langsung deh saya pinjam.
Tanpa babibu saya langsung berangkat mengantarkan Santi
bersama Nasrun dan Taufik. Saya udah nggak peduli lagi sama penghuni pos 3 yang
lain karena saat itu sudah sangat-sangat kesal. Biarlah jika nanti saya dimakan
Harimau di hutan sendirian atau jika saya dibunuh seseorang di rawa-rawa #halah
I didn’t want to give a damn about them! (Sekarang kalau saya pikirkan kejadian ini lagi, rasanya
saya malah pengen ketawa, menertawakan kekonyolan saya sendiri, I’m a drama
queen as usual, lol).
Anyway, akhirnya kami melewati hutan itu malam-malam.
Aslinya saya takut, takut banget! Tapi demi mereka yang sudah mau jauh-jauh
belajar kelompok untuk lomba besok, saya mencoba menyingkirkan rasa takut itu
dengan non-stop talking nonsense. Dari berangkat hingga sampai di pos 3 lagi,
saya hanya berani menatap tanah yang saya pijak sambil ngomong tanpa titik koma.
Mungkin jika ada ‘makhluk’ lain di hutan itu, mereka pasti berpikiran, “Ini
siapa sih? berisik!”. Akhirnya setelah sekitar 15 menit berjalan, kami sampai
di rumah Santi. Huufff....~
Komentar setelah mengantarkan Santi : jangan bermain di
hutan ketika malam hari.
What a tiring day, semoga besok (minggu) menjadi hari
keberuntungan kami :)
-to be continue-



No comments:
Post a Comment