August 7, 2014

(Day 6) KARNAVAL DAN INSIDEN SANDAL




Sabtuu.... sabtuuuu~ nggak kerasa, tiba-tiba udah tanggal 28 Juni aja. Hari itu jadwalnya karnaval seharian. Banzaiiiii...!!!

Karena tema karnavalnya adalah alam, Tika berencana untuk membuat mahkota dari dedaunan. Saya sengaja bangun pagi-pagi nemenin Tika nyari bahan buat karnaval. Kami tidak hanya berdua hari itu, karena kami tidak hafal landscape Bato Bintang, Imas, putri bu Sidah juga ikut bersama kami.
Kami bertiga berangkat jam setengah enam pagi, menyusuri sungai dan kebun-kebun untuk mencari tanaman menjalar yang bisa di-“ronce” dijadikan mahkota. Setelah setengah jam, kami dapat mengumpulkan se-kresek besar berbagai macam daun dan bunga.

Sesampainya di pos 3, dengan bantuan teman-teman yang lain, acara ronce-meronce dedaunanpun dimulai. Tika sebagai masternya, saya cuma bisa menghias dan membuat mahkota dari daun-daunan saja.~_~
Jam delapan pagi, kami berkumpul di MI dengan anak-anak yang ikut karnaval. Wah, ternyata banyak sekali peserta yang ikut. Apresiasi masyarakat Bato Bintang memang patut sekali saya acungi jempol. :)
Ada insiden kecil, konyol binti memalukan, yang saya alami sebelum kami berangkat menuju lapangan desa Nyato (tempat berkumpul peserta karnaval). Dengan pedenya saya berjalan ke tengah-tengah lapangan MI (saya kira tanahnya sudah kering). Eh nyampe tengah-tengah, sandal saya “kesedot” lempung, nggak bisa jalan, sial=..= goddamned! (note to myself: jangan bawa sandal jepit tipis oleh-oleh ala tempat wisata jika ingin bertahan di lahan yang berlempung). Teman-teman yang lain sudah hampir nyampe pintu gerbang, saya masih stuck di tengah lapangan. Saya harus teriak-teriak minta tolong:
“Woooy...tolongin woooy. Teman-teman aku kejebak lumpur!!!” lol, dan akhirnya saya ditolongin Sony, hahaha makasih yaa Son m(_ _)m.

Back to the story, perjalanan kami ke pos inti lumayan jauh. Kami melewati desa Nyato, disana terdapat danau lhooh. FYI, letak pos 4 juga di dekat danau situ, asyik banget kan?. Perjalanan dari dusun Bato Bintang ke Nyato memakan waktu sekitar 45 menit. Sampai di lapangan Nyato ternyata...... masih sepi!. Yak, untuk kesekian kalinya pos 3 datangnya kepagian, padahal kami kira sudah paling telat. Walaupun letaknya paling jauh, selain rajin, peserta karnaval pos 3 juga yang paling banyak diantara pos pos lain. Keren kan? pos 3 memang selalu fenomenal XD. Hohoho

Setelah sekitar satu jam, ketika semua peserta karnaval sudah berkumpul, kami ‘digiring’ menuju pos inti. Sesampainya disana, barulah acara hiburan dimulai. Tentu saja, pos 3 paling ramai. Peserta karnaval pos 3 menyajikan qoshidahan (saya lupa mereka menyebutnya apa, pokok yang nyanyi puji-pujian bahasa Arab sambil main rebana dsb itu lhooo) dan dance (yang ini hiburan tambahan, karena peserta karnaval perempuan merasa ‘panas’ setelah melihat penampilan dance dari pos 2(?) –seingat saya pos 2-).
Saya benar-benar terkesan dengan penampilan anak-anak Bato Bintang ketika mereka qoshidahan. Keren banget, apalagi sang vokalis(?), Muhajir. Walaupun masih kecil, ngajinya Muhajir jago banget, pintar, cool, ganteng pula #eh :p. FYI-again- Muhajir ini sering banget jadi rebutan buat foto-foto para kakak-kakak-mahasiswi rempong (termasuk saya) karena saking karismatiknya hahaha XD.

In addition, saya terhibur dengan dance-nya para anak-anak perempuan Bato Bintang. Sepertinya yang ikut dance ini para siswi kelas VI atau VII deh, sudah pada gede-gede soalnya. Mereka menari diiringi dengan lagunya Akon – Smack That (eh itu lagu tahun berapa ya?). Gerakan mereka terlihat lebih gemulai dibandingkan penampilan dance yang sebelumnya (sorry to say). Awalnya saya terkagum-kagum, waaah keren dance mereka nggak kaku, saya sampai berdiri agar dapat melihat lebih jelas. Tetapi ketika selesai 1 verse yang “Smack that all on the floor~..................~smack that oo~ooow~” mereka kembali ke formasi dan gerakan awal. Dan saya langsung kembali duduk di kursi.
Tika: “Kenapa mbak?”
Me: “Nggak papa, itu nanti sampai lagunya selesai, gerakannya seperti itu terus.”
Dan ternyata benar -_- ........
Honestly, saya suka kok dengan cara mereka menari karena benar-benar nggak ada yang kaku, dan itu bagus karena penari yang baik itu yang bisa menari model apapun tanpa terlihat kaku. Namun, saya lebih suka jika mereka menari tarian daerah daripada modern dance. After all, that was entertaining. :)

Keceriaan itu berlanjut ketika Fathur dan Sony (pos 3 dong tentunya) bikin heboh dengan atraksi super konyol mereka. Gimana nggak konyol, lhawong kata Sony, si “Teddy Bear” Fathur punya ilmu meringankan tubuh, bisa berjalan diatas tali.
Gaya bicara Sony sangat meyakinkan bak mbah Tarno yang mau nunjukin trik sulapnya, pake adegan ngambil tali jemuran, penutup mata dan kursi (menjiwai banget deh actingnya, sontak bikin semua orang di pos inti penasaran, termasuk saya.
Ternyata pemirsaaaah....berjalan diatas tali yang mereka maksud adalah....... ya benar-benar berjalan diatas tali, secara harfiah. Jadi talinya diletakkan di atas tanah, trus Fathur hanya tinggal berjalan diatasnya, berjalan normal... nggak kayak pemain sirkus yang berjalan di atas tali yang talinya digantung diatas-_-. Yaaah, gludak...!!! seisi pos inti langsung ngakak gara-gara pertunjukan mereka, benar-benar konyol maksimal, lol.

+++



Sorenya, saya janjian sama tiga anak-anak cerdas Bato Bintang, Nasrun, Taufik, dan Santi, untuk persiapan lomba cerdas cermat yang diselenggarakan pada hari minggu. Saya salut sama semangat belajar mereka, padahal baru kemarin (Jumat) saya beri materi mentahan yang mereka belum hafal. Eh pada hari itu (Sabtu), mereka sudah hafal 90% materi yang saya berikan, hebaaaat. Anak-anak itu ya, daya ingatnya memang luar biasa~

Oh iya, insiden sandal kembali terjadi sore itu. Tetapi bukan lagi sandal saya yang dilahap lumpur, melainkan sandal Santi yang dibawa oleh penghuni pos 3 entah siapa.
Kronologisnya, setelah bimbingan cerdas cermat, Santi dan yang lain bersiap untuk pulang karena senja sudah semakin pekat. Tiba-tiba....
Santi: “Mbak, sandalku kok nggak ada ya.”
Me: “Eh masa, dek? Sandalnya warnanya apa?”
Santi: “Biru(?) mbak.” (sebenarnya sandalnya bewarna hijau saudara-saudara. Bukannya Santi nggak bisa bedain warna hijau dan biru, ternyata di madura itu, warna hijau sebutannya ‘bero’ –atau semacam itulah, lagi-lagi saya nggak tahu nulisnya gimana- yang kalau dilafalkan memang mirip dengan lafal kata ‘biru’).
Me: *bantu nyari sandal* “Duh nggak ada dek, jangan-jangan dibawa Tika dkk yang sedang bimbingan menyanyi lagu kebangsaan di MI tadi.”

Akhirnya saya dan Santi pergi ke MI untuk mencari mereka, ternyata mereka nggak ada, sementara Maghrib segera menjelang. Lalu kami kembali lagi menuju pos 3, menunggu. Sembari menunggu, bu Sidah mengajak Santi makan. Saya nggak nafsu makan, saat itu percikan api kemarahan mulai menjalar di pangkal rambut.

Kenapa? selain sedang period, jujur saat itu saya sedang agak kesal dengan teman-teman yang terlalu santai hingga terkesan cuek dengan kejadian ini atau kejadian lain di hari-hari sebelumnya (mungkin juga karena pada dasarnya saya adalah orang yang terlalu serius dan perfeksionis, jadi agak crash, nggak cocok ketika dicampur dengan orang-orang yang berkepribadian ‘woles’). Beberapa hal yang sempat membuat saya sempat kesal adalah:
1.        Kebiasaan memakai sandal orang seenak jidat. Ini sepele sekali bagi yang lain, nggak penting malah, tapi bagi saya tidak. Bukannya pelit minjemin sandal atau apa, tapi sebelum ke Madura, ada pengumuman persiapan barang-barang apa saja yang harus dibawa yang (seingat saya) jelas-jelas tertulis untuk membawa sepatu dan sandal. Misalnya-pun di pengumuman nggak tertulis hal itu, tapi untuk para peserta BAM yang notabene-nya adalah para mahasiswa-yang-udah-pada-bisa-mikir, masa nggak kepikiran kalau tinggal 8 hari di daerah orang itu berarti butuh mandi, ke sawah, jalan kemana-mana, dan sebagainya yang nggak bisa dilakukan kalau kita memakai sepatu. Masa mandi mau pakai sepatu?. Kelihatannya hal seperti ini memang sangat sepele, tapi bagi saya, hal-hal seperti ini (bawa sandal misalnya) adalah sebuah tanggung jawab masing-masing yang tidak boleh disepelekan.
2.        Kebiasaan nggak minta izin dulu ketika meminjam. Contohnya: sandal lagi aja ya. Sejak hari pertama, mereka keluar masuk pake sandal yang berbeda-beda. Misalnya pun ingin memakai sandal orang lain, kenapa mereka nggak minta izin terlebih dahulu. Minta izin memang sepele banget, apalagi dengan kebiasaan orang Jawa yang “halah, teman sendiri aja kok”, tapi jika mengentengkan hal ini, apa yang terjadi? Ya insiden sandal Santi tadi.

Kalau rumah Santi dekat, mungkin hal itu bukan masalah besar. Namun permasalahannya, rumah Santi itu jauh guys, di desa lain, tepatnya desa Nyi’nyi. Selain itu, karena rencana bimbingan dan/atau kerja kelompok cerdas cermat hanya sampai sore hari, jadi Santi nggak minta izin ke orangtuanya untuk menginap, dia hanya izin untuk belajar kelompok pulang sore. Saya (yang memang terlalu serius menghadapi masalah) merasa sangat bersalah pada Santi, membuat dia menunggu sampai habis Maghrib.

Sebenarnya ada jalan pintas menuju rumah Santi di desa Nyi’nyi, yaitu melewati hutan. Tetapi gara-gara insiden sandal, Santi tidak berani lewat situ jika malam. Selain gelap, Santi juga tidak membawa senter, dia pun juga takut jika pulang malam melewati jalan itu sendirian. Tapi, jika melewati jalan besar (yang berarti juga berjalan memutar), dia juga tidak berani karena lewat sana berarti melewati kuburan (maklum ya anak SD). Selain itu, lewat jalan besar lebih jauh, kecuali kalau ditempuh dengan sepeda motor.
Tak berapa lama, Sony dan Wisnu datang. Ternyata sandal Santi dipakai Sony. Haaarrghhh...!!! saat itu darah di ubun-ubun saya sudah meletup-letup. 
Akhirnya yang inisiatif untuk mengantar Santi malah Nasrun dan Taufik, dua anak yang ikut cerdas cermat besok selain Santi. Dua anak itu sungguh mulia, mereka mau menawarkan bantuan untuk mengantarkan Santi pulang. Saya sangat terharu nak :”). Hanya saja mereka nggak bawa senter, dan saya nggak tega kalau mereka mengantarkan Santi tanpa senter. (Secara ya, lewat hutan, takut ada ular atau yang lain, kalau nggak sengaja keinjek kan bahaya).
Setelah mencari-cari senter dan menyerahkan ke Nasrun dan Taufik, ternyata dua anak mulia tadi cukup iseng juga-_-. Mereka berkata pada Santi kalau mereka akan lewat kuburan dan meninggalkan Santi sendirian disana. (Yeah, boys, they always do that to the girls)=_=. “Ancaman” mereka cukup membuat Santi ketakukan, haaah akhirnya saya juga yang harus menemani mereka mengantarkan Santi.

Saya memutuskan untuk meminjam senter lagi karena senter Dani tadi tidak cukup terang untuk empat orang. “Ada senter lagi nggak?” kata saya ke seluruh penghuni pos 3, saya cukup tergesa-gesa karena tidak ingin semakin malam mengantarkan Santi (pada dasarnya saya ini penakut T.T). Krikk...krik..krik... ternyata mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing, nggak ada yang merespon. Somebody please masukkan kepala saya ke air es, biar otak yang telah mendidih ini bisa mendingin. Untungnya Ririn sedang memegang HP, karena HP Ririn bisa dipakai untuk senter, langsung deh saya pinjam.

Tanpa babibu saya langsung berangkat mengantarkan Santi bersama Nasrun dan Taufik. Saya udah nggak peduli lagi sama penghuni pos 3 yang lain karena saat itu sudah sangat-sangat kesal. Biarlah jika nanti saya dimakan Harimau di hutan sendirian atau jika saya dibunuh seseorang di rawa-rawa #halah I didn’t want to give a damn about them! (Sekarang kalau saya pikirkan kejadian ini lagi, rasanya saya malah pengen ketawa, menertawakan kekonyolan saya sendiri, I’m a drama queen as usual, lol).

Anyway, akhirnya kami melewati hutan itu malam-malam. Aslinya saya takut, takut banget! Tapi demi mereka yang sudah mau jauh-jauh belajar kelompok untuk lomba besok, saya mencoba menyingkirkan rasa takut itu dengan non-stop talking nonsense. Dari berangkat hingga sampai di pos 3 lagi, saya hanya berani menatap tanah yang saya pijak sambil ngomong tanpa titik koma. Mungkin jika ada ‘makhluk’ lain di hutan itu, mereka pasti berpikiran, “Ini siapa sih? berisik!”. Akhirnya setelah sekitar 15 menit berjalan, kami sampai di rumah Santi. Huufff....~
Komentar setelah mengantarkan Santi : jangan bermain di hutan ketika malam hari.

What a tiring day, semoga besok (minggu) menjadi hari keberuntungan kami :)

-to be continue-



No comments:

Post a Comment