Beberapa bulan ini (terutama sejak masuk kuliah), saya mulai berpikir kalau kadang-kadang (mungkin malah sering) saya itu “invisible”, tak terlihat. Kenapa ya? Saya sendiri juga heran. Tapi banyak bukti kalau kehadiran saya emang kebanyakan nggak dirasain sama orang-orang, kalau nggak gitu orang-orang sering banget lupa sama saya --a. Apa jangan-jangan saya semacam hantu atau apa ya? 0.oa *krik krik krik.
Sebenarnya, kalau kejadian menjadi orang yang terlupakan-garis-miring-nggak-dikenal-garis-miring-sulit-teridentifikasi adalah sejak SMP kelas VIII. Salah seorang teman saya (tipikal cewek-cewek yang di sampul-sampul majalah) bilang “eh...siapa nama kamu?”. Yeah, in front of all, dengan innocentnya dia bilang kek gitu. Padahal, udah lewat satu semester lebih lho sekelas. Masa masih nggak tau nama saya? Kebangetan nggak sodara? =.=. Awalnya saya kira itu semacam hinaan, you know.. dia kan tipe-tipe cewek yang selalu pasang senyum muaniss di depan guru, nanya-nanyain pertanyaan gak penting binti bodoh, plus tipe orang yang nggak punya beban hidup #eh. Wah pokoknya tipe orang-orang yang paling saya hindari kalau bersosialisasi.
Anyway, back to topic.... Dari perkataan teman saya tadi, saya berpikir...hmmmm jangan-jangan saya itu emang orang-orang yang mudah terlupakan hanya dengan sekali lihat. Sedih, nyesek awalnya.
Anyway, back to topic.... Dari perkataan teman saya tadi, saya berpikir...hmmmm jangan-jangan saya itu emang orang-orang yang mudah terlupakan hanya dengan sekali lihat. Sedih, nyesek awalnya.
Kedua, sejak mulai masuk SMA, saya mulai berpikir jangan-jangan memang benar kalau saya “orang-orang yang terlupakan”. Well, kejadiannya nggak kayak diatas sih, tapi kalau ada kerja kelompok pasti saya kebagian yang sisa-sisa, kalau mereka main kebanyakan saya nggak diajak (itu kejadian sebelum saya ketemu sahabat-sahabat saya sih ^^ ). Tapi tetap saja, intinya sama... saya tetap jadi orang yang “invisible”. Saat itu, perasaan envy saya masih ada, yah maklum lah.. jaman-jaman SMA, jaman jaman pengen eksis.LoL.
Kelas XII, saya baca novelnya Ally Carter, Don’t Judge a Girl by Her Cover. Ceritanya si tokoh utama, Cammie dijuluki si Bunglon alias Chameleon karena dia pinter banget sembunyi dan nggak ada yang menyadari kehadirannya. Dari tokoh Cammie itulah saya merasakan hal yang sama dengan apa yang Cammie rasakan, menjadi orang yang invisible. Bedanya, di novel itu tingkah “menghilang” Cammie malah bisa disebut sebagai bakat, karena Cammie bersekolah di sekolah mata-mata, karena bakat itu pula dia juga disebut sebagai seniman jalanan. Dan sebagai seorang mata-mata haruslah pandai sembunyi dan “menghilang” dalam penyamaran mereka. Nah, dari situ perlahan perasaan envy saya hilang, saya nggak lagi pengen dikenal, pengen eksis. Sepertinya memang bukan jalur saya jadi orang eksis, hahah. Malah sebaliknya, saya merasa nyaman dalam ke-“invisible”-an saya. Lama-lama, sendiri itu jadi sahabat bagi saya, sepi jadi teman baik saya. Rasanya kalau sendiri itu seperti menemukan “inner peace”, kalau sendiri itu saya nggak perlu berpura-pura di depan siapapun. Dan yang terpenting, saya berasa jadi mata-mata XD #abaikan.
Ada kejadian lucu selama saya setahun jadi anak kuliahan ini. First, waktu acara TA (Temu Akrab), sebelum menginap selama 3 hari 2 malam di Mojokerto, tiap-tiap kelompok memang mengerjakan tugas-tugas yang diberikan para panitia TA. Setiap kumpul, saya selalu datang. Eh pada suatu hari waktu saya datang untuk kerja kelompok, salah satu teman satu kelompok saya bilang gini “Lhoh.. emang kamu ikut kelompokku ya?” #JDUARR... *kesamber petir =.=”.
Second, waktu saya di perpus ngerjain tugas bareng teman-teman yang lain. Padahal perkuliahan sudah berjalan dua bulan. Tapi tetap saja, ada salah satu teman saya bilang gini di depan saya “Lhoh.. kamu anak TP (Teknologi Pendidikan) juga?”. Saat itu saya lumayan speechless juga, halo? Masa dalam dua bulan dia belum tau saya? *sigh. Kemudian ada salah satu teman saya nyeletuk “Bukan..bukan.. dia anak MP (Manajemen Pendidikan) kok”. Hahaha, saat itu saya udah nggak bisa nahan ketawa. XD
Dan kejadian lucu yang sering saya alami adalah..... Kadang ketika mbak kos kamar lain ada di kamar saya, ngobrol sama mbak kos kamar saya. Ketika saya tiba-tiba ikutan nimbrung dari atas tempat tidur, pasti mbak kos kagetnya setengah mati, dia bilang kok saya nggak bilang-bilang kalau ada disitu (padahal udah disitu sejak tadi, mendengarkan perbincangan mereka). Ya sih, tempat tidur saya emang di atas. Tapi masa dengan badan saya yang segede ini dia nggak sadar -_-“. Trus sering juga sih, teman kampus nggak sadar kalau saya ada di dekat mereka. Kadang mereka tanya “lhoh..Dyah tadi mana ya?” padahal saya di dekat mereka, trus kalau saya jawab “disini” sambil pasang tampang datar. Mereka pasti kaget, bilang “lhoh..sejak kapan?”.hey hey. -_-
Dan (sepertinya) saya menemukan jawaban kenapa saya sering dilupakan atau kehadiran saya sering nggak dirasain orang. Jawaban ini saya peroleh dari teman kuliah saya. Ceritanya, masih ketika acara TA. Nah, disitu saya kenal sama Indri –anak kelas sebelah, satu kelompok sama saya. Waktu itu, kita disuruh bikin yel-yel. Nah karena pada dasarnya saya emang nggak suka sama acara yang berbau-bau seperti itu, saya antara enjoy nggak enjoy deh ikut TA. Pada saat itulah, si Indri ngomong “Eh kamu nanti kalau yel yel harus senyum lho ya,biar kelihatan semangat gitu. Awas kalau nggak, soalnya kamu tu wajah-wajah flat, wajah-wajah datar” #JLEBB. Dalam hati : maksudnya flat??? –“ *sweatdropped.
Tapi makasih sama Indri, karena semenjak kata-katanya pada hari itu, saya mulai berpikir...ohh mungkin itu yang menyebabkan saya jadi “invisible” atau “unrecognized people”.LoL. :D
Well, ada positif negatifnya sih jadi invisible people itu. Positifnya, saya nggak perlu susah-susah kalau pengen ngilang, saya nggak perlu berpura-pura terlalu banyak, bisa “mencuri dengar” tiap pembicaraan orang di dekat saya *ketawa jahat, dan bisa mengamati orang-orang disekitar saya. Negatifnya adalah, ada saat dimana saya benar-benar geregetan ketika teman saya nggak tau nama saya kalau ingin manggil. Banyak guru, dosen, bahkan nggak mengenali saya (jadi terkadang seberapa aktifpun saya dikelas, mereka nggak nambahin nilai saya, orang saya sering dilupakan T.T). Sebagai manusia, pasti ada kalanya kita ingin dikenali orang kan?
Yaah.. memang menjadi someone, something,... itu ada positif dan negatifnya. Sekarang saya nggak perlu minder lagi sama cewek-cewek wajah sampul majalah, saya bersyukur mempunyai wajah “flat” ini. Allah tentunya tidak menciptakan seorang manusia for no reason kan? ^^. Jadi, meskipun saya menjadi miss always invisible saya bersyukur. Mungkin memang ini tujuannya, karena saya sedikit introvert, jadi punya wajah seperti ini memudahkan saya untuk menghindari sosialisasi yang terkadang menjenuhkan. ~.~
Dan mungkin juga, saya diciptakan seperti ini agar jadi mata-mata handal yang dapat melakukan penyamaran mendalam XDDD <-- lagi kumat #abaikan ._.v
