Aku selalu senang menatap langit, biru dan luas. Bila sedang sedih atau penat, dengan menatap langit yang biru itu maka hatiku akan tersenyum kembali. Karena dengan menatap langit, aku sadar bahwa dunia itu luas.
Bahwa sepelik apapun kesedihan dan masalah yang kita hadapi ini hanyalah secuil kisah yang ada di bumi ini.
Bahwa mungkin di belahan dunia lain sana, ada yang mengalami kesedihan yang lebih hebat dari sedihku, permasalahan yang lebih pelik dari masalahku.
Maka aku selalu menatap langit, hanya untuk meyakinkan diriku bahwa setiap permasalahan dalam hidupku ini pasti dapat kulalui, dan setiap kesedihan yang ada di hatiku ini pasti dapat sembuh.
Memandang langit biru memang menenangkan, mendamaikan, dan menentramkan, apalagi jika terkadang berhiaskan awan-awan. Dan sesekali awan-awan itu mampu membentuk senyuman untuk menghiburku.
Tetapi, ternyata semua itu hanya dapat bekerja pada saat aku masih tinggal di desa, disebuah kota kecil yang dimana saat aku menatap keatas, membentang langitan luas dan angin berhembus segar menerpa wajahku.
Kau tahu?
Langit di kota besar itu berbeda, kebanyakan mereka telah “terlahap” oleh gedung-gedung pencakar langit. Bahkan jarang sekali aku melihat langit yang biru bersih. Kalaupun ada, aku tak dapat menikmatinya dengan cukup lama. Karena terik sang surya yang sangat panas disini, seakan-akan dapat membakar mataku jika aku menengadah ke langit terlalu lama.
Langit, aku sedih.
Di kota besar ini, aku tak dapat melihatmu dengan leluasa..
Aku hanya dapat melihatmu dari celah-celah jendela lantai tiga
Kapankah aku dapat memandangmu dengan lama? Sambil berbaring di ladang hijau yang terbentang luas di desa, dan bercanda dengan kawan-kawan lama?
Langit, sungguh aku benar-benar merindukan saat-saat itu...
Saat menatapmu yang membentang luas dihadapanku
Saat menatapmu dengan canda tawa dari kawan-kawan lamaku
Langit,
Aku merindukanmu dan mereka..............
Surabaya, 16-11-12
