July 7, 2014

(DAY 1) UNFORGETTABLE: PETUALANGAN DELAPAN HARI DI PULAU GARAM


Konnichiwa minna-saaann......^^
Ohisashiburi desune? O genki desuka? >.<
Setelah sekian lama nggak blogging, saya pengen ngebahas beberapa kegiatan saya selama vakum dari dunia per-blog-an. Untuk sekarang ini saya akanbercerita tentang kegiatan saya yang baru saja saya selesaikan, mumpung masih fresh dalam ingatan XD. Saya catat dulu aja disini, yuk disimak :p
Sekitar 2 minggu yang lalu, tanggal 23 Juni 2014, saya berangkat menuju pulau Madura, tepatnya di dusun Bato Bintang, Desa Amparaan, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan (buset panjang bener alamatnya) untuk mengikuti kegiatan BAM yang di selenggarakan oleh BEM F kampus saya. Sebelum cerita lebih jauh, saya ingin menjelaskan secara garis besar tentang BAM.
BAM atau Bakti Abdi Mahasiswa adalah sebuah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Bahasa dan Seni di universitas tempat saya kuliah. Apa saja kegiatan BAM? Seperti singkatannya, kami para mahasiswa harus mengabdi kepada masyarakat di desa binaan selama 8-10 hari. Kami mengadakan kegiatan fun day school, sekolah alam, perlombaan-perlombaan, pengobatan massal, keterampilan kewirausahaan, hingga membantu masyarakat sekitar yang sedang bekerja. Seperti membantu mencari rumput, berladang, dsb.
Saya dan 12 belas teman yang lain dari berbagai jurusan di fakultas bahasa dan seni “beruntung” untuk tinggal di pos 3 selama BAM. Pertama kali mendengar bahwa pos 3 akan ditempatkan di dusun Bato Bintang, hati nurani saya (hesyeh) langsung menjerit, “Noooooo....!!!! I don’t want to go there!!!!”.
Kenapa? Karena dari cerita teman saya yang pernah ikut program BAM tahun lalu, dusun Bato Bintang itu dusun terjauh dari pos inti. Kata mereka jauh banget! Lebih dari lima kilo. Dan katanya lagi, kalau mau nyari air buat mandi aja susahnya minta ampun, udah gitu airnya juga keruh dan bikin gatel. Yaa Allah, jika perkataan mereka terbukti benar, mau jadi apa saya seminggu disana? Kalau masalah sanitasi, saya memang paling rempong. Masa iya saya 8 hari disana cuma mandi sekali sehari?-_-. Belum apa-apa saya udah terlanjur kena stereotype yang enggak-enggak tentang Bato Bintang.“Semoga teman saya yang cerita itu hanyalah mendramatisir keadaan. God, please stay with me.” Itu do’a saya sebelum berangkat menuju dusun Bato Bintang. Bismillah....
Hari itu, sekitar jam setengah sembilan kami berangkat menuju Desa Amparaan. Meskipun daerah itu masih di Kabupaten Bangkalan yang notabene-nya Kabupaten terdekat dengan Surabaya, tapi jangan salah ye, daerah yang bernama Desa Amparaan, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan itu jauuuuh banget. Mungkin (kalau saya nggak salah hitung, karena saya paling parah kalo masalah hitung-menghitung :P), jarak desa Amparaan dari Bangkalan yang tepat setelah Suramadu, jauhnya hampir sama kayak jarak Surabaya-Malang.
Entah kemana hidup akan membawaku, itulah yang ada di pikiran saya selama menuju desa Amparaan (lebay ._.v). Truk TNI yang mengantar kami menuju desa itupun, kalau pinjem quotenya Ariel Noah, sungguh sangat “luar biasa”. Pak sopirnya profesional banget, sampai-sampai naik truk TNI serasa kayak naik roller coaster-_-. Apalagi si penunjuk jalan yang sempat kebablasan, membuat 2 truk TNI yang dibelakangnya juga ikut kebablasan, sehingga dengan susah payah kami harus putar balik. Si pak supir juga tambah bad mood, jadi gaya nyopirnya pun tambah “waaaowww”. Berasa mau berangkat ke medan perang deh.
Sesampainya di pos inti dusun Amparaan, kami disambut hujan. Horeee!!! Lengkap sudah penderitaan, karena tekstur tanah di kecamatan kokop adalah tanah liat atau lempung. FYI, susah banget berjalan di tanah liat ketika basah, karena tanah liat menjadi licin. Kalau berjalan rawan terpeleset atau malah bikin kaki “nempel” ke tanah nggak bisa jalan, lebih bahaya kalau naik kendaraan bermotor, ban bisa selip (atau apalah itu istilahnya).
Kami diantar menuju pos 3 menggunakan mobil colt warna biru tua milik warga sekitar pos inti. Karena hujan tadi, kendaraan tidak bisa mengantarkan kami tepat di pos 3, kami hanya bisa diantar sampai di MI setempat.Perjalanan menuju desa itupun sangat menegangkan. Subhanallah, medannya sungguh sangat sesuatu. Ketika naik di mobil itu, saya berasa seperti berpetualang di hutan Amazon! Pepohonan masih sangat lebat, dan jarak antara rumah satu warga dengan warga lainnya sungguh sangat jauh.
Jalurnya pun juga masih off-road, man! Sebagian besar belum aspalan. Well, ada sedikit jalan yang sudah diaspal, tapi itupun aspalnya nggak sebagus jalan-jalan beraspal di Jawa. Setelah barang-barang kami diturunkan di MI, kami masih harus mengangkatnya ke pos 3. Dengan medan licin dan becek itu, I thought, “Ok, what a good start in the first day!”. Belum apa-apa beberapa teman saya udah kepingin pulang.=_=
Dari MI menuju pos 3 sebenarnya nggak begitu jauh, tapi karena barang bawaan yang berat dan jalanan yang licin, rasanya jauuuh sekali. Selama 8 hari BAM, kami tinggal di rumah warga yang dijadikan sebagai pos 3. Rumah tersebut sangat sederhana. Dindingnya masih terbuat dari “anyaman bambu” (oke, ini istilah bahasa Indonesianya apa, dinding yang seperti itu kalau di daerah saya disebutnya ‘gedhek’). Sebagian lantainya juga masih berupa.... (err.. saya juga nggak tau istilahnya dalam bahasa Indonesia apa, bener-bener minim kosakata-_-v *buka KBBI*. Au ah, yang jelas di daerah saya lantai yang seperti itu biasa disebut ‘cor-coran’), sebagian yang lain masih berupa tanah. Ada 2 dipan untuk tidur 8 peserta perempuan yang mengikuti BAM, khusus untuk peserta laki-laki sih tidurnya keleleran diluar. Hahaha :P

-markas pos 3-

-our bedroom :)-
Setelah merapikan barang-barang di pos 3, akhirnya saya mandi. Airnya seger sih, seger banget. Kamar mandinya masih belum berkeramik, tapi lumayan lah setidaknya masih ada kamar mandi *bernafas lega*. Tetapiiiiii, (sebenarnya ini nggak saya ceritakan langsung ke teman-teman saya disana, tapi karena ini sudah selesai, jadi kayaknya nggakpapa nih cerita di sini, hehehe), saya menemukan beberapa “hewan” di kamar mandi itu, antara lain jentik-jentik nyamuk, dsb.. Ketika saya lihat di sekitar kamar mandi, saya tidak bisa menemukan adanya karbol, abate, atau cairan pembersih kamar mandi yang lain. w(OAOw)
Oh God, awalnya saya parno, tetapi akhirnya memutuskan “berdamai” dengan keadaan. Mau bagaimana lagi kan? Jadi solusinya, sebelum mengambil air di gayung, biasanya saya mengecek dulu airnya. Kalau bersih, baru saya pakai. Inilah yang bikin ritual mandi saya tambah lama, buat teman-teman pos 3, maaf ya bikin kalian nunggu lama :P *peace*.Malamnya, kami dijamu oleh tuan rumah yang mengizinkan rumahnya untuk kami singgahi selama 8 hari sebagai pos 3. Kami makan bersama ditemani dengan sinar lampu yang sebentar nyala sebentar redup.
Penerangan disini masih sangat minim, (pak PLN dengarkan keluhan saya). Desa Amparaan termasuk desa yang masih berkembang, meskipun sekarang sudah ada listrik di rumah-rumah warga, tetapi listrik tersebut tidak bisa menerangi dengan maksimal. Andai pak PLN tahu, jalanan di desa itu masih sangat sangat gelap di malam hari. Tidak ada listrik yang menerangi jalan, sama sekali. Jadi jika keluar di malam hari, para warga harus menggunakan lampu senter. Belum lagi, jalanan menuju beberapa rumah di desa itu tidak mudah untuk dilalui. Ada beberapa rumah yang harus melewati “hutan” dan sungai-sungai terlebih dahulu untuk sampai disana (padahal mereka nggak tetanggaan sama Dora lho). Saya nggak bisa ngebayangin gimana kalau ada masalah yang sangat urgent di malam hari, belum lagi jika hujan. Subhanallah, sungguh tegar para warga disini. Salut, salut banget :”)
However, bicara tentang malam, keadaan di dusun Bato Bintang ketika malam hari menghadirkan sebuah romansa yang indah jika kita mengabaikan masalah listrik itu tadi. Suasana malam di Bato Bintang menjadi indah karena (entah ini hanya perasaan saya saja atau apa), bintang-bintang di langit terlihat begitu dekat dan besar-besar jika dilihat dari Bato Bintang. Indah dan sangat cantik, sudah lama saya nggak melihat bintang sebanyak itu bertaburan di langit. Untuk pertama kalinya, akhirnya saya paham rasi bintang gubuk penceng itu mengarah kemana. ._.v
Melihat bintang-bintang yang begitu cantik di malam hari, udara segar berbau pepohonan, dan pemandangan padang sabana yang indah di desa ini, menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan bagi saya. After all, it’s not so bad. :)
Photos:





-masaaaak :9-

-to be continue-

No comments:

Post a Comment