Konnichiwa minna-saaann......^^
Ohisashiburi desune? O genki desuka? >.<
Setelah sekian lama nggak blogging, saya pengen ngebahas
beberapa kegiatan saya selama vakum dari dunia per-blog-an. Untuk sekarang ini
saya akanbercerita tentang kegiatan saya yang baru saja saya selesaikan,
mumpung masih fresh dalam ingatan XD. Saya catat dulu aja disini, yuk disimak
:p
Sekitar 2 minggu yang lalu, tanggal 23 Juni 2014, saya berangkat
menuju pulau Madura, tepatnya di dusun Bato Bintang, Desa Amparaan, Kecamatan
Kokop, Kabupaten Bangkalan (buset panjang bener alamatnya) untuk mengikuti
kegiatan BAM yang di selenggarakan oleh BEM F kampus saya. Sebelum cerita lebih
jauh, saya ingin menjelaskan secara garis besar tentang BAM.
BAM atau Bakti Abdi Mahasiswa adalah sebuah kegiatan
tahunan yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Bahasa dan Seni di universitas
tempat saya kuliah. Apa saja kegiatan BAM? Seperti singkatannya, kami para
mahasiswa harus mengabdi kepada masyarakat di desa binaan selama 8-10 hari. Kami
mengadakan kegiatan fun day school, sekolah alam, perlombaan-perlombaan,
pengobatan massal, keterampilan kewirausahaan, hingga membantu masyarakat
sekitar yang sedang bekerja. Seperti membantu mencari rumput, berladang, dsb.
Saya dan 12 belas teman yang lain dari berbagai jurusan
di fakultas bahasa dan seni “beruntung” untuk tinggal di pos 3 selama BAM.
Pertama kali mendengar bahwa pos 3 akan ditempatkan di dusun Bato Bintang, hati
nurani saya (hesyeh) langsung menjerit, “Noooooo....!!!! I don’t want to go
there!!!!”.
Kenapa? Karena dari cerita teman saya yang pernah ikut
program BAM tahun lalu, dusun Bato Bintang itu dusun terjauh dari pos inti.
Kata mereka jauh banget! Lebih dari lima kilo. Dan katanya lagi, kalau mau
nyari air buat mandi aja susahnya minta ampun, udah gitu airnya juga keruh dan
bikin gatel. Yaa Allah, jika perkataan mereka terbukti benar, mau jadi apa saya
seminggu disana? Kalau masalah sanitasi, saya memang paling rempong. Masa iya
saya 8 hari disana cuma mandi sekali sehari?-_-. Belum apa-apa saya udah
terlanjur kena stereotype yang enggak-enggak tentang Bato Bintang.“Semoga teman saya yang cerita itu hanyalah
mendramatisir keadaan. God, please stay with me.” Itu do’a saya sebelum
berangkat menuju dusun Bato Bintang. Bismillah....
Hari itu, sekitar jam setengah sembilan kami berangkat
menuju Desa Amparaan. Meskipun daerah itu masih di Kabupaten Bangkalan yang
notabene-nya Kabupaten terdekat dengan Surabaya, tapi jangan salah ye, daerah
yang bernama Desa Amparaan, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan itu jauuuuh
banget. Mungkin (kalau saya nggak salah hitung, karena saya paling parah kalo
masalah hitung-menghitung :P), jarak desa Amparaan dari Bangkalan yang tepat setelah
Suramadu, jauhnya hampir sama kayak jarak Surabaya-Malang.
Entah kemana hidup akan membawaku, itulah yang ada di pikiran
saya selama menuju desa Amparaan (lebay ._.v). Truk TNI yang mengantar kami
menuju desa itupun, kalau pinjem quotenya Ariel Noah, sungguh sangat “luar
biasa”. Pak sopirnya profesional banget, sampai-sampai naik truk TNI serasa
kayak naik roller coaster-_-. Apalagi si penunjuk jalan yang sempat kebablasan,
membuat 2 truk TNI yang dibelakangnya juga ikut kebablasan, sehingga dengan
susah payah kami harus putar balik. Si pak supir juga tambah bad mood, jadi
gaya nyopirnya pun tambah “waaaowww”. Berasa mau berangkat ke medan perang deh.
Sesampainya di pos inti dusun Amparaan, kami disambut
hujan. Horeee!!! Lengkap sudah penderitaan, karena tekstur tanah di kecamatan
kokop adalah tanah liat atau lempung. FYI, susah banget berjalan di tanah liat
ketika basah, karena tanah liat menjadi licin. Kalau berjalan rawan terpeleset
atau malah bikin kaki “nempel” ke tanah nggak bisa jalan, lebih bahaya kalau
naik kendaraan bermotor, ban bisa selip (atau apalah itu istilahnya).
Kami diantar menuju pos 3 menggunakan mobil colt warna
biru tua milik warga sekitar pos inti. Karena hujan tadi, kendaraan tidak bisa
mengantarkan kami tepat di pos 3, kami hanya bisa diantar sampai di MI
setempat.Perjalanan menuju desa itupun sangat menegangkan. Subhanallah,
medannya sungguh sangat sesuatu. Ketika naik di mobil itu, saya berasa seperti
berpetualang di hutan Amazon! Pepohonan masih sangat lebat, dan jarak antara
rumah satu warga dengan warga lainnya sungguh sangat jauh.
Jalurnya pun juga masih off-road, man! Sebagian besar
belum aspalan. Well, ada sedikit jalan yang sudah diaspal, tapi itupun aspalnya
nggak sebagus jalan-jalan beraspal di Jawa. Setelah barang-barang kami
diturunkan di MI, kami masih harus mengangkatnya ke pos 3. Dengan medan licin
dan becek itu, I thought, “Ok, what a
good start in the first day!”. Belum apa-apa beberapa teman saya udah
kepingin pulang.=_=
Dari MI menuju pos 3 sebenarnya nggak begitu jauh, tapi
karena barang bawaan yang berat dan jalanan yang licin, rasanya jauuuh sekali.
Selama 8 hari BAM, kami tinggal di rumah warga yang dijadikan sebagai pos 3.
Rumah tersebut sangat sederhana. Dindingnya masih terbuat dari “anyaman bambu”
(oke, ini istilah bahasa Indonesianya apa, dinding yang seperti itu kalau di
daerah saya disebutnya ‘gedhek’). Sebagian lantainya juga masih berupa....
(err.. saya juga nggak tau istilahnya dalam bahasa Indonesia apa, bener-bener
minim kosakata-_-v *buka KBBI*. Au ah, yang jelas di daerah saya lantai yang
seperti itu biasa disebut ‘cor-coran’), sebagian yang lain masih berupa tanah.
Ada 2 dipan untuk tidur 8 peserta perempuan yang mengikuti BAM, khusus untuk
peserta laki-laki sih tidurnya keleleran diluar. Hahaha :P
-markas pos 3-
-our bedroom :)-
Setelah merapikan barang-barang di pos 3, akhirnya saya
mandi. Airnya seger sih, seger banget. Kamar mandinya masih belum berkeramik,
tapi lumayan lah setidaknya masih ada kamar mandi *bernafas lega*. Tetapiiiiii,
(sebenarnya ini nggak saya ceritakan langsung ke teman-teman saya disana, tapi
karena ini sudah selesai, jadi kayaknya nggakpapa nih cerita di sini, hehehe),
saya menemukan beberapa “hewan” di kamar mandi itu, antara lain jentik-jentik
nyamuk, dsb.. Ketika saya lihat di sekitar kamar mandi, saya tidak bisa
menemukan adanya karbol, abate, atau cairan pembersih kamar mandi yang lain.
w(OAOw)
Oh God, awalnya saya parno, tetapi akhirnya memutuskan
“berdamai” dengan keadaan. Mau bagaimana lagi kan? Jadi solusinya, sebelum
mengambil air di gayung, biasanya saya mengecek dulu airnya. Kalau bersih, baru
saya pakai. Inilah yang bikin ritual mandi saya tambah lama, buat teman-teman
pos 3, maaf ya bikin kalian nunggu lama :P *peace*.Malamnya, kami dijamu oleh
tuan rumah yang mengizinkan rumahnya untuk kami singgahi selama 8 hari sebagai
pos 3. Kami makan bersama ditemani dengan sinar lampu yang sebentar nyala
sebentar redup.
Penerangan disini masih sangat minim, (pak PLN dengarkan
keluhan saya). Desa Amparaan termasuk desa yang masih berkembang, meskipun
sekarang sudah ada listrik di rumah-rumah warga, tetapi listrik tersebut tidak
bisa menerangi dengan maksimal. Andai pak PLN tahu, jalanan di desa itu masih
sangat sangat gelap di malam hari. Tidak ada listrik yang menerangi jalan, sama
sekali. Jadi jika keluar di malam hari, para warga harus menggunakan lampu
senter. Belum lagi, jalanan menuju beberapa rumah di desa itu tidak mudah untuk
dilalui. Ada beberapa rumah yang harus melewati “hutan” dan sungai-sungai
terlebih dahulu untuk sampai disana (padahal mereka nggak tetanggaan sama Dora
lho). Saya nggak bisa ngebayangin gimana kalau ada masalah yang sangat urgent
di malam hari, belum lagi jika hujan. Subhanallah, sungguh tegar para warga
disini. Salut, salut banget :”)
However, bicara tentang malam, keadaan di dusun Bato
Bintang ketika malam hari menghadirkan sebuah romansa yang indah jika kita
mengabaikan masalah listrik itu tadi. Suasana malam di Bato Bintang menjadi
indah karena (entah ini hanya perasaan saya saja atau apa), bintang-bintang di
langit terlihat begitu dekat dan besar-besar jika dilihat dari Bato Bintang.
Indah dan sangat cantik, sudah lama saya nggak melihat bintang sebanyak itu
bertaburan di langit. Untuk pertama kalinya, akhirnya saya paham rasi bintang
gubuk penceng itu mengarah kemana. ._.v
Melihat bintang-bintang yang begitu cantik di malam hari,
udara segar berbau pepohonan, dan pemandangan padang sabana yang indah di desa
ini, menjadi sebuah pengalaman tak terlupakan bagi saya. After all, it’s not so
bad. :)
Photos:
-masaaaak :9-
-to be continue-





No comments:
Post a Comment